Senin, 19 September 2011

PROMOTING LESSON STUDY AS ONE OF THE WAYS FOR MATHEMATICS TEACHERS PROFESSIONAL DEVELOPMENT IN INDONESIA

PROMOTING LESSON STUDY AS ONE OF THE WAYS FOR MATHEMATICS TEACHERS PROFESSIONAL DEVELOPMENT IN INDONESIA: The Reflection on Japanese Good Practice of Mathematics Teaching Through VTR

By : Marsigit

Reviwed by : Rosalia Hera NS

Melihat prlaksanaan pembelajaran matematika yang baik dengn conteks yang berbeda melalui VTR (perekam video) memiliki efek yang baik guna memotivasi guru untuk mengembangkan kemampuan mengajarnya. Merefleksikan VTR di jepang dalam praktek pembelajaran membuat guru berangapan bawasanya model ini baik untuk diterapkan di Indonesia.

VTR (Perekam Video) yang digunakan untuk memperbaiki perkembangan di pendidikan matematika, terutama dalam hal pengembangan lesson study memiliki banyak kentunagn antara lain : ringkasan yang pendek dari pelajaran dengan pembahasan masalah utama dalam pelajaran, komponen dan kegiatan utama dalam kelas, isu-isu yang dapat dibahas sekaligus direfleksikan dengan pengamatan guru melalui pelajaran (Isoda, M., 2006). Menurutnya, lesson study dibagi kedalam tiga bagian yaitu : perencanaan pembelajaran, observasi dan diskusi serta refleksi.

Lebih jauh lagi, ketika kita mengunakan VTR, kita sekaligus memulai dari observasi akantetapi VTR itu sendiri kehilangan beberapa dimensi, parameter dan konteks karena program tersebut dipersiapkan atau direkam dari prespektif perekam dan editornya. Dengan mengobservasi VTR, kita belajar dan menerapkannya di aktivitas selanjutnya. Guru di Indonesia dapat memperhatikan pembelajaran yang berbeda di negera yang berbeda (Jepang) melalui VTR.

Secara umum, kegiatan merefleksikan konteks Jepang dalam pembelajaran matematika melalui VTR dalam program pelatihan sangat bagus dan berguna untuk guru. Guru berangapan kegiatan tersebut perlu disosialisasikan ke daerah lainnya agar lebih banyak guru yang mempelajarinya. Selain itu guru berangapan, pelajaran dengan merefleksikan VTR adalah model yang baik yang dapat diimplementasikan di Indonesia. Meskipun begitu, hal ini bukanlah pekerjaan yang mudah.

Guru melihat, bawasanya untuk mengimplementasikan model yang baik dalam pembelajaran matematika ini, didalamnya terdapat beberapa bagin antara lain : Rancangan rencana pembelajaran, lembar kerja siswa, kompetensi guru, modul untuk murid, fasilitas pendidikan dan perlengkapan, metode pembelajrn, lokai waktu, jumlah siswa dan biaya. Guru perlu mengembangkan kompetensinya. Dengan mengembangakan kompetensinya guru dapat mengembangkan RPP serta membuat lembar kerja siswa dengan baik.

Berdasarkan guru, mayoritas siswa belum siap atau belum dapat mempresentasikan ide mereka, dan butuh waktu untuk mebiasakannya. Banyak sekolah belum memiliki fasilitas yang mencukupi untuk mengembangkan media pembelajaran. Selain itu, kesulitan lain yang dihadapi adalah alokasi waktu. Beberapa guru berngapan bawasanya tidaklah mudah untuk menyeimbangkan antara pemngembangan kemampuan siswa dengan proses pembelajaran. Akan tetapi guru tetap harus memfasilitasi seluruh siswanya yang jumlahnya tidak sedikit tiap kelasnya. Banyak guru berharap pemerintah mendukung pengembangan kompetensinya sekaligus medukung pengembangan pembelajaran termasuk didalamnya dalam hal keuangan.

KTSP DAN IMPLEMENTASINYA

By : Drs. Marsigit MA

Review by : Rosalia Hera NS

KTSP, who didn’t know about that, expecially for academic people. Yes, KTSP is a curriculum that use in the Indonesian school. That’s curriculum use from the elementary until high school. In the process to apply that’s curriculum in school there are some problems. Teacher as the top lance of the educational activity, should understand the phylosophy and the concept of the KTSP deeper. In KTSP teacher is the one who develop the curriculum. They have a big influence to the curriculum.

In the government degree number 25 years 2000, education and cultural part, government has authority to fixed: 1) the competency standard of student and learning people and the arrangement of the national curriculum and the national priced of the result of the study and the tutorial to do it. 2) the main subject material standard. Then, because teacher is the people who nearest with the student, the enviroment of the class, and the facility, so in KTSP teacher has authority to expand and develop the curriculum into syllabus.

KTSP is an operational curriculum that made and done by each school. By using that’s curriculum, hope the education in Indonesia will be develop and the learning process will be effective. It’s because the KTSP is based on the class situation. KTSP develop by follow that’s principles :

· Centered at student and environment potency, needed

· Diversity and united

· Responsible with the development of science, technology and art

· Relevant with what life need

· Over all and related

· balance among the national needed and the place needed

And the component of KTSP is the goal of the education in the school and the operational model to made the curriculum. Then the structure of KTSP is the religion and good attitude group, citizen, science ant thechnology, sport. And the subject is : subject, local subject, development of skill activity, arrangement of the study, graduated, softskill, education based on local and global best. Another that school must be create their own academic calendar. But th calendar must be checked with the standard that given by the government.

In order to support the KTSP, the syllabus develop is needed. The syllabus develop based on principle : scientific, relevant, sistematic, consisten, actual and contekstual, flekcible, and menyeluruh. In the way to develop the syllabus teacher must be take an attention to the competency standard and base competency, identify the main material, develop the study experience, the success indicator, the evaluated, time allocation and the reference.

KEGIATAN PENELITIAN SEBAGAI USAHA UNTUK MENINGKATKAN PROFESIONALISME GURU MATEMATIKA

By : Dr. Marsigit

Review by : Rosalia Hera NS

Research is a ways to get the knowledge that done by a sistematic procedure that based on scientific studied. With that teacher can improve the professionalism. By the research teacher can develop the subject. Another that by the research the teacher can develop the teaching learning process. In another statement, teacher can find the innovative method to teach the student. By using the innovative teaching method that related to the global movement.

One of the approach in mathematics education research is qualitative research. The qualitative method in mathematics learning used the scientific method to find the rules, properties, and the principle of the real mathematics learning in school. The rue can be found by using the deductive or inductive method.

The experiment can be done by manipulated the variable that can be occur as qualitative so can be find the relationship with the others variables in teaching learning methods. But the universal rule can be founded in all cases of mathematics learning in a specific probability level. In that research, the researcher is a neutral person and just search the phenomenon that can be seen, can be occur with the valid and reliable instrument.

The quantitative research using the logic-hipotetiko-verify methods on this thinking, with the steps : take the problem, formulate the hypothesis about the mathematic teaching, bring the data together, analyze the data, exam the hypothesis, take the conclution, write down the report and finish. Based of the approach quantitative research in mathematics education is a research of the learning process in mathematics learning enviroment, interaction with that, try to understand the language and that meaning about mathematics learning. Because of that’s reason, the teacher must be go to the research place an d here for several times to observed or find the data that related to the research problem.

Effort to find the phenomenon in mathematics learning can be figured by the herminitic circle. When the teacher or the researcher try to find the learning aspect as a phenomenon, they must be understand that the componen is not steril. They related or conected with a lot of learning aspect and context in previous time or now. In the research, teacher can develop or inovated the mathematics learning based on the conceptual factor, value, pragmatice, empiric, or politics.

From the action of mathematics learning there are two kind of factor. They are the learning activity factor and the value factor. If the research want to correct the mathematics learning in content or the learning material so they can do the research to the student when they studied mathematics. If the researcher wants to correct the method, they need to see the context of the mathematic learn, teaching method that used by the teacher and how to coordinate the class. But if the research wants to detect the effect of the variation in learning factor that related with more than one factor they can use the correlation coefficient.

The researcher need to know about the reality of the mathematic education, mathematic education research method, mathematics learning theory, studying mathematic theory, the profecionalism of mathematics teacher, mathematics learning technology, assessment theory, international prespective, ideology of mathematics learning.

By do the research teacher can develop many aspect in teaching learning process in order to develop the education quality in mathematics. Teacher can develop the material of mathematics, teaching method,etc. by using this, the propecionalism of the teacher hopely increased.

DEVELOPING SCHOOL-BASED CURRICULUM FOR JUNIOR HIGH SCHOOL MATHEMATICS IN INDONESIA

By : Marsigit

Revied by : Rosalia Hera NS

Meningkatkan kecerdasan warga negara merupakan tujuan negara yang tertuang dalam pembukaan UUD’45. Hal ini pulalah yang menjadi konsentrasi utama dari pemerintah. Sedangkan tujan dari sistem pendidikan di Indonesia sendiri teridri dari : kepercayaan kepada Tuhan YME, mengembangkan kecerdasan dan ketrmpilan individu, pengembangkan ahlak mulia. Sejak 1968, banyak pedekatan sistematik guna mengembangkan pendidikan di Indonesia yang telah dikembangkan. Sejak saat iru hingga tahun 1990an, pendekatan yang dialkukan dibut berdasarkan asumsi bahwa kurikulumharuslh bersifat logis dan berasal dari pemerintah. Kemudian terpecah menjadi hirarki dari objek instruktural dan pelajaran dibuat.

Akan tetapi, di tahun 1984, pendekatan ini dirasa tidaklah cocok mengerakan sumber daya dan untuk mengembangkan model secara nasional. Hal ini menujukkan ketidakberhasilan pekerjaan dalam rangka perubahan pendidikan di Indonesia yang diakibatkan dari beberapa hal seperti : lingkungan pendidikan yang kompleks, keterbatasan dana, keberagaman dari konteks pendidikan seperti etnik, geogrfi, budaya dan nilai, ketidakmengertian guru akan teori pembelajaran yang baik dan bagimana mengimplemantasikannnya, dan mediokrit pengembangan pendidikan bedasarkan alam, dasar dari ilmu pengetahuan dan perkembangan dunia.

Usaha yang dilakukan untuk mengembangkan pendidikaan matematika di Indonesia mencakup kolaborasi dari kegiatan piloting pembelajaran matematika di sekolah menengah pertam di beberapa derh di negara ini(Marsigit, 2003). Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengembangkan dan mencoba beberapa model pembelajaran di sekolah. Dosen dari pendidikan guru dan guru bekerjasama di sekolah untuk mengembangkan model pembelajaran yang dibutuhkan di lapangan.

Strategi dasar dilakukan adalah memperkenalkan aradigma baru dari pendidikan matematika dan pengetahuan. Objek dari kegiatan ini adalah untuk berkontribusi dalam rangka pengembangn pendidikan matematika dan pengetahuan di sekolah melalui percobaan beberapa materi yang dikembangkan dalam proyek ini yang berhubungan dengan sekolah. Kegiatan ini dilakukan dengan mengacu pada penelitian tindakan kelas yang dilakukan antara dosen dan guru.

Dalam kegiatan ini juga dilakukan monitoring. Hasil dari program monitoring ini antara lain : sosialisasi dari kurikulum baru ini perlu diintensifkan, partisipasi guru, kepala sekolah dan supervisor perlu ditingkatkan, sumber yang mendukung untuk kurikulum dibutuhkan untuk dikembangkan secara effektif, perlu dipromosikan kelas berdasarkan penelitian untuk guru sebagi dasar dari kegiatan pembelajaran, diperlukan diseminasi dari konsep an teori dengan baik mengenai paradigma pembelajaran matematika, implementasi dari kurikulum yang baru mecakup fasilitas pendidika dan media termasuk didalamnya pembiayaan.

Berdasarkan monitoring tersebut implementasi dari sekolah berdasar kurikulum mengidentifikasikan beberapa faktor dari siswa, guru dan lingkungan yang belum optimal untuk mendukung kurikulum yang baru. Hasil dari evaluasi pelaksanaan curikulum yang baru mengajarkan kita untuk terus mengembangkan kurikulum. Selain itu juga mensugesti kita untuk mengembangkan kualitas pendidikan matematika. selain itu pemeintah hendaknya mengembangkan serta memfasilitasi dan mendukung penerapan kurikulum yang baru dalam berbagai aspek termasuk didlamnya dengan mebenahi ataupun mengatur kembali pertauran-peraturan yang ada.

Minggu, 11 September 2011

THE ICEBERG APPROACH OF LEARNING FRACTIONS IN JUNIOR HIGH SCHOOL: TEACHERS’ SIMULATIONS OF PRIOR TO LESSON STUDY ACTIVITIES

Oleh : Marsigit

Direview oleh : Rosalia Hera NS

Dalam proses belajar mengajar hendaknya dikembangkan tiga aspek yakni afektif, kognitif, dan psikomotor pada siswa. Dengan mengembangkan ketiga aspek ini harapannya mampu menghasilkan generasi yang terbaik. Untuk mengembangkan ketiganya seorang guru dituntut untuk membentuk lingkungan yang mendukung sehingga kemampuan mereka di ketiga aspek tersebut dapat berkembang dengan baik. Begitupun dalam pembelajaran metematika.

Matematika di tingkat SMP diharapkan dapat mengembangkan kemampuan berfikir logis, analisis, sistematis, kritis, kreatif dan mampu mengkolaborasikannya dengan hal yang lain. Dengan kemampuan ini mereka dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari serta dapat sebagai bekal dalam pemecahan masalah.

Dan dalam rangka pengembangan ini hendaknya seorang guru mengunakan pendekatan realistik dan kontekstual agar materi dapat tersampaikan dengan baik dan mudah dimengerti. Selain itu, sumber pembelajaran hendakya juga berkembang. Maksudnya, sumber tidak hanya tertuju pada satu sumber namun juga membuka kemungkinan adanya sumber-sumber lainnya.

Matematika realistik sendiri merupakan sebuah metode pembelajaran matematika yang mengakaitkan materi dengan kehidupan sehari-hari atau situasi yang dihadapi oleh siswa. Tidak hanya itu, matematika realistik juga disesuaikan dengan apa yang difikirkn oleh siswa. Dengan demikian harapannnya dapat menjebatani kemampuan berfikir abstrak siswa yang belum maksimal.

Untuk pendekatan Iceberg, dimulai dengan pemberian pengalaman belajar secara nyata kepada siswa. Hal ini dilakukan untuk membangun pengetahuan siswa. Sedangkan dalam pembelajaran pecahan banyak siswa yang susah untuk mengkaitkan pengertiannya secara informal dengan pengertian matematisnya. Dan terkadang siswa merasa materi ini abstrak.

Dalam penyampaian materinya, guru berusaha mengidentifikasi aturan-aturan yang ada dengan menvisualisasikannnya. Visualisasi ini dilakukan dengan cara mengkaitkan serta memanipulasi konsep pecahan, relasinya serta operasi-operasinya. Meskipun dalam pelaksanaannya masih ditemukan beberapa masalah. Akan tetapi pengalaman belajar siswa sangatlah penting guna membentuk dan mengembangkan sikap matematis atau metode matematis.

Banyak guru yang mengunakan model Iceberg guna mengajarkan meteri pecahan. Dalam mengembangkan model iceberg, guru mengungkapkan bahwa pecahan tidak hanya terdiri dari bilangan bulat akan tetapi juga perbandingan serta bilangan rasional. Meskipun model iceberg membangun sendiri konsep pecahan pada siswa akan tetapi masih ada siswa yang merasa susah untuk mengerjakan soal yang berkaitan dengan simbol. Akan tetapi dengan metode ini, siswa dapat menyelesaikan masalah-masalah terkait kehidupan sehari-hari dengan lebih mudah. Oleh karenanya metode ini cukup penting untuk mengajarkan matematika di SMP.

PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERBANTUAN KALKULATOR

PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERBANTUAN KALKULATOR:

Studi Kasus Penggunaan Kalkulator Texas Instrument TI 89 pada PBM Matematika di SMK MUHAMMADIYAH IV YOGYAKARTA


By : Drs. Marsigit, MA and Retno Siswanto, S.Pd
Reviewed by : Rosalia Hera NS

Who didn’t know about calculator? I think all of us know about that. Yes, it’s one of the technology that help us to calculate something. Its also helpful for solving some mathematic problem. The development of calculator is so fast. There are two kinds of calculator. They are scientific calculator and usual calculator.
One of the example of the scientific calculator is graph calculator. That’s calculator can solve the mathematic problem fast and show its graph. Another that, this calculator can made a program to solve mathematic problems. Because of that, in this research will be identified the used of graph calculator in mathematic teaching learning process. This research use the qualitative approach.
There are some important direction from the Texas Instrument TI 89. First, Solve direction, this is a direction to solve the algebra problem. Second, simult, its one of the direction from the matrix fiture. By using that’s direction, the problem will be solved based on matrix equation. Ant the last is expand. Its one of the algebra fiture that solve the problem by expanding process.
In this section will be given the example of using the texas instrument TI 89 calculator to solve the two variable linear equation. The way to solve the two variable linear equation is open the APPS fiture or application. Then, put the equation to the Y= editor. After that show the problems graph. Then we can see the application from the calculator.
By using the calculator there are some effect. There will be presented the response from the student after using the calculator in learning process. By using calculator student fell that its essy to solve the problem that given from the teacher. With the calculator, the learning process in class more interesting. Another that with the calculator the learning feels develop. In the learning process, calculator is just to help to calculate. Another that its just for check the problem doing.
Altough the calculator is helpful, some student was difficult to use it. They difficult to understand the problem that want to put into the calculator. Another that, some of them feel difficult to puts the data from the problem into the calculator. And then some of them also difficult to analyze, to interpret and give the conclution from the result of the problem that show from the calculator. To solve that’s problem student can ask the teacher or the other friends that more know about that. And the negative effect by using the calculator is its sometimes make the student lazy.
And to use the calculator in the mathematics learning there are some steps. First step, the teacher must explain the important meaning of the graph calculator. Then, the student try to understand the theory and the direction in calculator. And the third, student try to puts the data into the calculator. And the last step is how to interpret its result.

LESSON STUDY ON MATHEMATICAL THINKING

Developing Mathematical Methods in Learning the Total Area of a

Right Circular Cylinder and Sphere as well as the Volume of a Right Circular Cone of the Indonesian 8th Grade Students


Oleh : Marsigit, Mathilda Susanti, Elly Arliani
Direview oleh : Rosalia Hera NS

“Jika ingin makmur setahun, tanamlah biji-bijian. Jika ingin makmur sepuluh tahun, tanamlah pohon. Jika ingin makmur 100 tahun, kembangkan manusia. “ (Konfusius, 551 SM – 479 SM)
Mengembangkan manusia merupakan suatu hal yang dituju oleh semua generasi. Dan dalam rangka menembangkan manusia ini, hal penting yang perlu diperhatikan adalah di bidang pendidikan. Seperti yang dinyatakan dalam UU no 20 tahun 2003 Sindiknas, sistem pendidikan di Indonesia harus mengembangkan kepandaian dan kemampuan individu, meningkatkan kepemimpinan yang baik, patriotisme, dan kepedulian sosial, hendaknya menjaga kebiasaan/tingkah laku yang baik serta mengembangkannnya. Oleh karenanya pengembangan kualitas pendidikan merupakan hal yang penting guna meningkatkan standar pendidikan di Indonesia.
Sedangkan pembelajaran matematika adalah suatu proses mengembangkan kemampuan dan keterampilan matematika siswa agar mampu menerapkan pola pikir matematika dalam kehidupan sehari-hari dan dalam mempelajari ilmu pengetahuan yang lain. Oleh karenanya metode matematika merupakan hal yang penting untuk dikembangkan guna menunjang pengembangan manusia seutuhnya. Oleh karenanya dalam hal ini diteliti mengenai faktor-faktor yang terkait dengan kemampuan siswa untuk mengembangkan metode matematika.
Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif melalui lesson study di dua kelas berbeda yakni kelas 8A dan 8B. Desain dari penelitian ini terdiri dari perencanaan, pelaksanaan dan refleksi. Sedangkan instrumen yang digunakan meliputi angket, wawancara, observasi saat pembelajaran. Kegiatan ini diawali dengan diskusi antara peneliti dengan guru.
Dalam pelaksanaannya siswa memanipulasi model dari silinder dan kerucut siku-siku dengan tujuan mengidentifikasi komponen-komponennya. Dan ketika gfuru memberikan perntanyaan atau memberikan tugas mereka menujukkan kemampuan abstraksi matematikannya. Beberapa murid menjelaskan konsep silinder melalui beberapa contoh dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian dilakukan abstaksi untuk menjelaskan komponen-komponenya yakni lingkaran, tinggi dan jari-jari lingkaran. Hal ini juga dilakukan untuk menjelaskan mengenai konsep bola dan kerucut yakni melalui contoh dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan bekerja dalam kelompok siswa dapat mengembangkan kemampuan menganalogikan suatu kejadian. Proses pengembangan ini terjadi ketika siswa menghitung luas permukaan dari silinder yang sama dengan luas dari persegi panjangnya. Begitupun ketika mencari luas permukaan bola dengan cara melilitkan tali di permukaan tersebut. Sedangkan kemampuan berfikir induktif berkembang melalui korelasi serta bentuk dari permasalahan-permasalahan terkait luas daerah tersebut. Hal ini berkembang dari awal pelajaran hingga akhir atau diperoleh kesimpulan.
Metode matematis dapat dikembangkan pada siswa melalui skema dalam proses belajar mengajar sebagai berikut :
1. Pengembangan dan pemahaman masalah dapat dikembangkan melalui langkah berikut :
a. pemberian model dari silinder, bola dan kerucut.
b. Mengidentifikasi komponen dari silinder, bola dan kerucut.
c. Menyatakan konsep dari silinder, bola dan kerucut siku-siku.
d. Mendapatkan pertanyaan dan catatan dari guru untuk mengulas/ lebih memahami konsep.
2. Penetapan Pandangan atau cara berfikir melalui :
a. Bekerja untuk mencari luas daerah dari silinder, bola dan kerucut siku-siku melalui model.
b. Belajar untuk mengetahui bahwa tinggi silinder sama dengan lebar dari persegi panjang, dan keliling lingkarannya sama dengan panjang persegi panjang.
c. Belajar untuk mengetahui volume dari sebuah kerucut siku-siku.
d. Membongkar bentuk silinder menjadi komponen-komponennya.
3. Penyelesaian masalah dilakukan ketika siswa :
a. Mencoba mencari luas daerah dari bagian-bagian silinder.
b. Mencoba mencari luas daerah total dari sebuah silinder.
c. Mencoba mencari luas daerah dari bola.
d. Mengumpulkan data untuk menghitung volume dari kerucut siku-siku dengan mengaitkanya dengan volume silinder.